Kamis, 11 Juli 2013

Tulisan #Manusia sebagai Makhluk Sosial

A. Pengertian Makhluk Sosial 

      Manusia sejak awal kelahirannya adalah sebagai makhluk sosial (ditengah keluarganya). Makhluk yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia memerlukan mitra untuk mengembangkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sebagai individu, manusia dituntut untuk dapat mengenal serta memahami tanggung jawabnya bagi dirinya sendiri, masyarakat dan kepada Sang Pencipta.

Meskipun banyak spesies berprinsip sosial, manusia sebagai makhluk sosial akan membentuk kelompok berdasarkan ikatan/pertalian genetik, perlindungan-diri, atau membagi pengumpulan makanan dan penyalurannya, manusia dibedakan dengan rupa-rupa dan kemajemukan dari adat kebiasaan yang mereka bentuk entah untuk kelangsungan hidup individu atau kelompok dan untuk pengabadian dan perkembangan teknologi, pengetahuan, serta kepercayaan. Identitas kelompok, penerimaan dan dukungan dapat mendesak pengaruh kuat pada tingkah laku individu, tetapi manusia juga unik dalam kemampuannya untuk membentuk dan beradaptasi ke kelompok baru.

Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai warga masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial.

B. Tujuan Manusia Bersosialisasi dengan Manusia lain

    Tujuan sosialisasi secara esensial (secara pokok) adalah untuk dapat mengantarkan manusia pada kebutuhan dan tuntutan untuk dapat terus bertahan hidup di bidang fisik maupun sosial budaya (Stephan & Stephan, 1990). 
Dalam konteks fisik, proses sosialisasi harus dapat membekali manusia dengan kemampuan-kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologis dasar yang diperlukan untuk terus hidup dalam lingkungan fisik mereka. 
Dalam konteks sosial budaya, proses sosialisasi harus dapat membantu manusia dengan pemahaman tentang sistem norma dan peran yang dikembangkan dalam masyarakat. 
Adapun tujuan pokok dari pada sosialisasi (buku sari sosiologi) adalah :
1. Memberi ketrampilan yang dibutuhkan seseorang dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat. 
2. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif. 
3. Membantu seseorang mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat. 
4. Menanamkan kepada seseorang nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat.

C. Dasar-dasar Struktur Sosial

     Dalam mengamati berbagai berbagai peranan sosial, antropologi sosial biasanya menggunakan model tertentu dalam melakukan pendekatannya. Antara lain melalui konsep integrasi sosial. Konsep ini melihat bahwa terdapatnya hubungan dan saling mempengaruhi di antara tingkah laku sosial, kekuatan dan kelemahan pada suatu unit system kekerabatan yang mana semua itu berada dalam suatu bangunan sosial atau struktur sosial.
Struktur sosial biasanya meliputi dasar-dasar keluarga, perkawinan, sistem kekerabatan, status dan peranan sosial, stratifikasi sosial, himpunan yang berdasarkan kelompok usia dan keturunan, organisasi sosial. Struktur sosial mencakup berbagai macam kelompok sosial, termasuk di dalamnya pranata sosial atau sosial institution.

D. Faktor yang Mempengaruhi Sosialisasi

     Sosialisasi bekaitan erat dengan kepribadian. Hal ini karena kepribadian terbentuk sebagai hasil sosialisasi individu terhadap apa yang ada disekelilingnya seperti nilai, norma, kebiasaan, adat-istiadat kebudayaan. 
Ada lima faktor yang menjadi dasar perkembangan kepribadian (sosialisasi) yaitu :
1. Sifat dasar, yaitu suatu sifat dari keseluruan potensi yang diwariskan dari ayah dan ibunya.
2. Lingkungan prenatal, yaitu lingkungan dimana dia sebelum lahir (ketika dia masih didalam rahim sang ibu. Pada saat ini dia dapat pengaruh dari ibunya seperti jenis penyakit, gangguan enduktrin yang bisa mengakibatkan gangguan mental, srtuktur tubuh seperti cacat, kidal, dan sebagainya.
3. Perbedaan perorangan (individu), yaitu bayi yang tumbuh dan berkembang sebagai individu yang unik dan berbeda dengan individu-individu yang lain.
4. Lingkungan, yaitu kondisi disekitar individu yang mempengaruhi rasa sosialisasinya yang meliputi : lingkungan alam, lingkungan kebudayaan, lingkungan manusia lain dan masyarakat disekitarnya.
5. Motivasi, yaitu kekuatan dari dalam individu yang menggerakkannya untuk berbuat sesuatu.

Sumber:
http://nabil-maududi.blogspot.com/2012/11/manusia-sebagai-makhluk-sosial.html

Kamis, 23 Mei 2013

Tulisan 5 #Manusia dan Keadilan

Meski Terbukti Bersalah, Rasyid Rajasa Divonis Hukuman Percobaan



Jakarta - Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur memutuskan Rasyid Rajasa terbukti bersalah dalam kecelakaan di Jalan Tol Jagorawi awal tahun baru lalu. Namun hakim memberikan vonis kepada putra bungsu Menko Perekonomian Hatta Rajasa itu dengan hukuman percobaaan.


"Menyatakan terdakwa bersalah. Dengan adanya hukum yang berkembang di masyarakat, maka terdakwa dijatuhkan hukuman bersyarat, yaitu 6 bulan hukuman percobaan, dan pidananya hukuman 5 bulan," ujar Ketua Majelis Suharjono di PN Jakarta Timur, Jl Dr Soemarno, Jakarta, Senin (25/3/2013). Dengan demikian dia tidak perlu masuk penjara bila tidak mengulang perbuatan serupa dalam kurun waktu 6 bulan. Jika mengulang, maka dia masuk penjara selama 5 bulan.



Usai persidangan, Rasyid langsung berjalan ke depan menyalami tiga orang hakim. Setelah itu tanpa bicara sedikit pun, Rasyid yang mengenakan kemeja warna putih ini langsung meninggalkan ruang sidang.



Ia pergi melalui pintu belakang sambil ditemani kuasa hukumnya. Tidak lama berselang, Ibu Rasyid, Oktiniwati Ulfa Dariah Rajasa, juga menyusul anaknya keluar.



Baik Rasyid maupun jaksa diberi waktu selama tujuh hari untuk pikir-pikir mengajukan banding atau tidak. Ia dianggap terbukti melanggar Pasal 310 ayat 4 UU tentang kecelakaan lalu lintas akibat mengendarai kendaraan dengan lalai dan subsider pasal 310 ayat 2.


Sebelumnya, Rasyid Rajasa dituntut 8 bulan penjara dengan masa percobaan selama 12 bulan penjara akibat tabrakan maut yang terjadi 1 Januari 2013 lalu antara BMW X5 dan Luxio yang diketahui merupakan angkutan umum gelap.



PENGERTIAN:

      Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. 
                
     Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.

       Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua. 
                 
    Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama, hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh) dan lain sebagainya.
        
        Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran" [1]. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil" [2]. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
               
         Jadi Menurut saya keadilan itu adalah hak setiap orang, semua manusia saja disetarakan oleh Tuhannya, tetapi kenapa manusia derajatnya berbeda-beda dimata setiap manusia? seperti pada contoh kasus diatas, saya melihat ada keadilan yang cenderung memihak kepada orang yang memiliki pangkat atau terpandang dimata orang orang. apabila hukum diatas segalanya seharusnya orang takut akan hukum bukan takut pada derajat seseorang.
                   
      Kasus Rasyid Rajasa adalah kasus yang sangat sangat mengucilkan masyarakat kecil, sudah jelas bahwa Rasyid menbrak mobil hingga pengemudi lainnya tewas, itu adalah hukum pidana dan harus dipenjarakan berdasarkan pasalnya. tetapi yang saya tangkap disini bahwa setiap pasal tidak berlaku saat Hakim memutuskan keputusan bahwa Rasyid hanya menerima hukuman percobaan dan tidak dipenjarakan. walaupun sang hakim tidak menerima 'suap' dari ayah dari Rasyid tapi di kasus ini Hakim terkesan takut dan ingin mendapat reward dari keluarga Rajasa. 



SUMBERhttp://news.detik.com/read/2013/03/25/142413/2202933/10/meski-terbukti-bersalah-rasyid-rajasa-divonis-hukuman-percobaan
http://id.wikipedia.org/wiki/Keadilan
http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia

Tulisan 4 #Manusia dan Pandangan Hidup


                                           Dukun dan Guru Spiritual


   Jakarta - Pekan-pekan ini jagat warta dipenuhi persoalan metafisika. Dari santet yang pro-kontra masuk dalam pembahasan revisi KUHP, dan Adi Bing Slamet yang 'marah' membuka kedok Eyang Subur. Adakah dukun itu? Benarkah santet itu?


  Saya tersenyum mendengar paparan 'penyadaran' Adi Bing Slamet. Saya juga tergelak tatkala kakak Iyut ini menceritakan Nurbuat melakukan ritus aneh. Tapi adakah syarat aneh dan tingkah aneh itu aneh di kalangan selebritas kita? Tidak ! Di balik glamoritas para artis dan aktris kita, keanehan itulah yang 'momong' batin mereka. Juga di balik garang dan arogansi para penguasa, ada figur aneh yang berperanan 'menjaga' eksistensi mereka.

    Dalam dunia mistik dikenal dua jagat. Jagat cilik dan jagat gede. Makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos dikaitkan dengan tampilan phisik. Sedang mikrokosmos diasosiasikan sebagai batin. Phisik kuat taklah kuat tanpa ditopang keyakinan. Tapi sebaliknya, keyakinan kuat akan mengalahkan phisik yang lemah. Itulah yang disebut spirit, yang mempunyai energi ekstra dalam menghadapi berbagai aral dan onak kehidupan.

      Eksistensial dua jagat ini tidak pernah bertemu. Itu karena jalan yang harus dijalani memang beda. Yang satu dihidupi ambisi dan keinginan bersifat duniawi. Yang satu lagi disemaikan spirit melepas dominasi duniawi. Disiplin dua-duanya pun beda. Yang satu bertumpu pada akal, kalkulasi logis, berseberangan dengan hitung-hitungan rasa. Jika kelak berhasil, maka yang satu berkuasa atas raga, sedang yang lain berkuasa terhadap batin.

    Kekuatan keyakinan yang bersifat metafisis ini menurut saya tidak mengenal agama, apalagi politik. Sebab dasar kekuatan itu terletak pada tingkah-laku. Kebaikan yang semakin baik akan menambah kekuatan itu, dan kebaikan yang tercoreng keburukan akan mendegradasinya. Prinsip 'ngelmu kuwi ginawa kanthi laku' (ilmu itu terbawa dari tingkahlaku) seperti suratan Mangkunegara IV dalam Wedhatama terasa benar.

        Ada apologia terhadap pandangan ini. Dulu di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), saban tiga atau enam bulan sekali dilakukan demo membacok tubuh atau menggoreng sesuatu di kepala. Itu lancar saja berpuluh-puluh tahun. Tapi sejak 'politik' dan 'akal' menggerogori batin mereka, maka semua demo itu berakhir di rumah sakit. Gagal! Ini yang membuat demo seperti itu sekarang dihilangkan.

     Saya juga pernah hidup dalam komunitas Suku Sasak di Rambanbiak. Dusun ini dikenal sebagai 'dusun mistik'. Orang sakit tak perlu dibawa ke dokter, tapi melalui ritus penyembuhan yang disebut Pakon. Di tempat ini juga bisa dipakai sebagai wisata menuju 'alam lain'. Syarat ritus harus dipatuhi, akal harus dibuang jauh, dan yang tak masuk akal itu akhirnya 'faktual'.

     Saya juga pernah berbulan-bulan hidup bersama Suku Bunak di Pulau Timor. Saya kenal dengan kepala sukunya (Kesar), sarjana, dan rasional. Namun karena dia kepala suku, dia wajib memimpin ritus suku untuk melakukan 'penyembahan' terhadap Uis Pah, Uis Neno, dan Uis Oel. Dewa Tanah, Dewa Matahari, dan Dewa Air. Tiga ritus itu yang paling berat adalah untuk persembahan Uis Neno. Itu harus dilakukan di puncak bukit tegak lurus sambil membawa kerbau atau kambing.

       Saya heran bercampur kagum tatkala sang kepala suku yang rasional itu bisa melakukan hal yang muskil itu. Namun saat santai, sang kepala suku ini jujur bicara pada saya, bahwa dia sendiri juga heran dengan apa yang dilakukan. “Saya hanya bilang pada diri sendiri, saya kepala suku, saya ikuti petuah tetua adat, dan ternyata yang menurut logika tak logis itu akhirnya bisa saya tunaikan. Saat-saat seperti itu saya seperti kehilangan kesadaran,” akunya.

       Di Bali, seorang balian (dukun) tak sulit untuk mengidentifikasi korban laka-lantas atau pembunuhan. Dengan cara mistik mereka dengan gampang merekonstruksi kejadian itu. Jasa ini yang acap dipakai aparat penegak hukum jika kesulitan melakukan pelacakan. Dengan demikian, jika dirunut, masalah mistik memang masih lekat dengan berbagai suku di negeri ini.

      Malah di Banyuwangi, ada rumah mewah di pinggir jalan, yang kalau Anda tahu profesinya akan membuat bulu kuduk Anda berdiri. Itu adalah rumah tukang pelet. Pelet dalam istilah Banyuwangi adalah santet. Mencelakai orang melalui benda-benda tertentu yang dikirim ke dalam tubuh korban, agar yang bersangkutan binasa. Dan praktek seperti ini masih banyak di berbagai daerah Jawa Timur bagian timur ini. Namun adakah dengan fakta itu ancaman hukumannya harus dimasukkan dalam KUHP?

     saya setuju dengan yang tak setuju praktek ini dimasukkan dalam revisi KUHP. Sebab jika dilakukan, maka akan banyak fitnah yang masuk pengadilan. Toh untuk menangkal praktek ini cukup mudah bagi yang mau berbuat baik dan beribadah secara benar. Selain, tentu, pasal ini bertolak belakang dari asas hukum, yang bersendi pada bukti material.

      Dukun dan santet memang ada dan menjadi bagian dari kehidupan bangsa ini. Banyak yang percaya 'dunia gaib' ini, tersebar dari pejabat tinggi negara sampai rakyat jelata. Saking banyaknya pasien mereka, maka banyak pula aksi tipu-tipu. Tak salah jika Orang Jawa menafsirkan dukun itu sebagai kependekan 'yen ono udune dirukun'. Kalau ada uangnya diakrabi.

     Terus bagaimana dong mengukur dukun itu baik dan tidak? Gampang. Karena profesi dukun adalah untuk mencari pahala, soal akherat, maka spiritualis yang benar adalah yang tidak minta duit untuk pekerjaannya. Itulah spiritualis sebenar-benar spiritualis. Spritualis yang dijamin sakti !

Pengertian:


     Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasaikan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Macam-macam sumber pandangan hidup :
Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasaikan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
(A) Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
(B) Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norms yang terdapat pada negara tersebut.
(C) Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.


      Jadi menurut saya tentang pandangan hidup masyarakat Indonesia ini sangat sangat beragam, dari yang idealis modern bahkan yang udah zaman serba teknologi seperti ini masih ada yang berpandangan pada hal-hal yang berbau mistis, Indonesia adalah negara multikultural yang didalamnya banyak sekali memiliki kebudayaan yang bermacam macam. bahkan untuk mendapatkan  harta dan jabatan orang modern pun banyak yang menggantungkan nasib mereka ke dukun atau sering disebut guru spiritual.

sumber : http://news.detik.com/read/2013/03/22/102117/2200852/103/dukun-dan-santet
http://angga12casidy.wordpress.com/2011/03/22/tugas-ibd-6-%E2%80%9D-manusia-dan-pandangan-hidup-%E2%80%9C/

Tulisan 3 #Manusia dan Kegelisahan

Siswa SMP Unggulan Merasa Dijadikan Kelinci Percobaan



       Jakarta - Ribuan siswa SMP unggulan di DKI Jakarta merasa resah karena tidak diperhatikan nasibnya oleh Pemprov DKI Jakarta. Mereka merasa hanya dijadikan kelinci percobaan. Kelanjutan pendidikan mereka pun tidak jelas karena mereka tetap sulit mendapatkan SMA/SMK unggulan. "Tadi orangtua siswa yang dulu sekolah di SMP unggulan mendatangi Komnas Perlindungan Anak. Mereka merasa disia-siakan karena ketika mendaftar ke SMA/SMK unggulan ditolak," kata Sekjen Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait kepada detikcom, Selasa (11/7/2006).


         Kegelisahan ini cukup beralasan, sebab 4.901 siswa dari 10 SMP negeri dan 16 SMP swasta yang ditetapkan sebagai sekolah unggulan, hanya 400 siswa yang diterima. "Kalau tahun lalu siswa yang sekolah di SMP unggulan otomatis diterima di SMA yang mereka pilih. Sekarang tidak ada kebijakan itu. Padahal materi ujian antara sekolah unggulan dengan yang tidak, berbeda. Lebih sulit yang di sekolah unggulan," jelas Arist. Disebutkan dia, pada 6 Juli lalu ada pertemuan antara orangtua siswa dengan pihak Pemprov DKI termasuk Dikmenti Provinsi DKI Jakarta.

       Hasilnya akan ada konversi nilai dengan mengacu kepada ketentuan Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Sayangnya kebijakan itu hanya berlaku 2 jam langsung dicabut kembali oleh Dikmenti. "Kita melihat hal ini sebagai bentuk pelanggaran anak atas pendidikan. Artinya sistem yang dibuat oleh Dikmenti hanya uji coba, sehingga membuat siswa dirugikan karena masuk ke sekolah unggulan yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi atau kurikulum 2004," jelas dia. Akibat kejadian ini orangtua siswa dengan Komnas Perlindungan Anak sepakat untuk mengajukan class action jika dalam waktu seminggu pihak Pemprov DKI Jakarta tidak mengubah kebijakannya.

          Jadi menurut saya Memang ahkir ahkir ini sedang terjadi kegelisahan tentang pendidikan diNegri ini, kenapa? karena semua pelaksanaan UN seringkat SMA dan SMP mengalami 'kebobrokan' dalam pelaksanaannya, mulai dari soal soal yang tidak merata distribusinya, kurangnya jumah soal, kertas yang mudah sobek dll. jelas hal ini menyebabkan kegelisahan yang diterima oleh semua siswa yang mengikuti UN. kegelisahan yang diterima oleh remaja memiliki resiko yang sangat besar, seperti contoh saat remaja mendapat kegelisahan yang sangat mendalam remaja itu akan cenderung berpikir singkat dan memilih untuk mengahkiri hidupnya.
maka menurut saya kecerobohan dinas pendidikan ini sangat mempengaruhi mental remaja yang merasa kegelisahan akan hasil yang akan didapat dari usaha mereka dalam ngerjakan ujian nasional.

sumber : http://news.detik.com/read/2006/07/11/160915/633560/10/siswa-smp-unggulan-merasa-dijadikan-kelinci-percobaan

Tugas 5 #Manusia dan Keadilan



Pengertian Keadilan

          Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.

    Keadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.
        Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.


II. MACAM-MACAM KEADILAN

A. KEADILAN LEGAL ATAU KEADILAN MORAL



        Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal.

       Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk member tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara baik.

         Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidak keserasian.

B. KEADILAN DISTRIBUTIF
            Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).

C. KEADILAN KOMUTATIF
            Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.

III. Upaya Pendistribusian Keadilan
D. Kejujuran,
       Kejujuran atau jujur mengandung perngertian bahawa apa yang dikatakan sesuai dengan hati nuraninya, dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Pada hakekatnya kejujuran dilandasi kesadaran moral akan hak dan kewajibannya juga takut akan dosa. Adapun kesadaran moral menuntut manusia untuk memilih hal yang baik dan buruk, halal dan haram, dan sebagainya. Terkadang pemikiran tidak sesuai dengan hati nurani. Saat itulah ketika seseorang bertindak berdasar pemikirannya dikatakan ia tidak jujur kepada dirinya dan pada akhirnya akan menimbulkan rasa tidak nyaman di hati. Untuk itu, batasan dari kejujuran adalah hati nurani, bukan pemikiran.

E. Kecurangan,
          Secara sederhana kecurangan adalah lawan dari tidak jujur, dan identik dengan licik. Kecurangan mengandung pengertian bahwa seseroang mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak benar/ tidak jujur. Dan biasanya cara yang digunakan tidak wajar. Ada banyak sebab kecurangan, namun pada akhirnya kecurangan akan mengarah kepada keburukan. keburukan adalah lawan kebaikan, dan pada hakikatnya keduanya ada di diri manusia. Tinggal mana yang akan dipilih. Disini, hati nurani lah yang bekerja. Apabila seseorang condong kepada kebaikan, maka kejujuran yang dipilihnya begitupun sebaliknya.

F. Pemulihan Nama Baik,
           Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup bersosial. Orang akan berusaha mati-matian untuk menjaga namanya agar tetap baik. meskipun terkadang jalan yang diambil curang. Nama baik erat kaitanya dengan perbuatan dan tingkah laku. Perbuatan sendiri meliputi banyak hal mulai dari cara berbicara, cara bergaul, dan sebagainya. Perbuatan baik sendiri, bisa dibagi ke dalam dua hal,
1.      manusia menurut sifat dasarnya adalah berupa moral,
2.      manusia dengan aturan-aturan tertentu dalam bermasyarakat.
Pemulihan nama baik sendiri berarti adanya kesadaran dari seseorang untuk mengembalikan kedudukannya di dalam masyarakat. Hal ini bisa didasarkan bahwa orang itu berbuat salah dan menyadarinya, atau mendapat fitnah dari pihak lain. Pada intinya, pemulihan nama baik adalah upaya untuk mengembalikan kedudukannya kembali di dalam masyarakat.

G. Pembalasan,
          Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain kepada diri kita. reaksi bisa berupa perbuatan yang sama/ seimbang, lebih kecil, atau bahkan lebih besar. Ketidakadilan bisa terjadi apabila pembalasan dilakukan dengan reaksi yang lebih besar.
Meskipun pembalasan identik dengan perbuatan buruk, namun sebenarnya yang dinamakan pembalasan adalah reaksi dari semua perbuatan kita dalam bergaul. Jika seseorang bergaul dengan baik, maka ia akan mendapat pembalasan yang bak pula. Sebaliknya, apabila seseorang bergaul dengan cara yang tidak baik, maka ia akan mendapatkan balasannya berupa ketidakbaikan pula.

Sumber :

Sabtu, 11 Mei 2013

Pendidikan (memang) Mahal. Lalu??


        Bicara biaya pendidikan tinggi di Indonesia, gerak refleks yang terjadi adalah jidat mengernyit dan tawa satir yang terlontar. Biaya yang mahal, ketidakpedulian pemerintah, dana pendidikan yang kurang tersosialisasi, praktek korupsi di semua tingkat pemerintahan, jadi alasan terbesar mengapa kita pesimis terhadap sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Sepertinya tidak ada celah untuk membuka diri terhadap keoptimisan.

      Tapi, coba kita usahakan untuk membuka diri terhadap kemungkinan perubahan. Kita, mahasiswa, adalah phak yang benar-benar mengalami dan menjalani proses pendidikan tinggi ini. Kita sendirilah saksi hidup bagaimana ketidakjujuran jadi bagian proses pengaliran dana ini mengalir.
Mereka yang duduk di tahta pemerintahan juga adalah mahasiswa yang dulunya berjuang untuk membela hak-hak rakyat (pendidikan bagi setiap lini masyarakat) tapi sekarang sudah terbuai oleh kedudukannya masing-masing. Apakah kita sadar kepesimisan yang kita lontarkan bisa menjadi batu sandungan bagi kita? Apa kita bisa jamin saat kita memiliki kedudukan yang sama dengan mereka, kita akan tetap berjuang untuk hak pendidikan bagi rakyat?

         Biaya pendidikan tinggi di Indonesia memang mahal. Semua mahasiswa meneriakkan itu semua disetiap orasinya. Meneriakkan dimana perhatian pemerintah tertuju. Meneriakkan bagaimana pemerintah dengan nikmatnya menjalani hidup yang serba berkelebihan. Lalu apa? Apa itu semua bisa merubah sistem yang telah dibuat oleh penguasa? Kenapa kita tidak menjadi mahasiswa yang sebaik-baiknya, menjadi manusia yang seutuhnya dibandingkan terus mengutukki pemerintah kita sendiri?
Apa kita sudah cukup baik untuk bisa memangku tahta dan kedudukan sebagai penguasa? Apa kita semua adalah mahasiswa suci yang tidak pernah TA, tidak pernah mencontek saat ujian, tidak pernah mengcopy tugas teman? Bukankah semua perbuatan itu adalah benih-benih ketidakdisiplinan, benih-benih calon koruptor?

     Ini saatnya untuk mau memaafkan perbuatan penguasa, kekhilafan penguasa. Kita semua manusia yang pasti pernah melakukan kesalahan. Jadi, cobalah untuk bijaksana dalam berkehidupan sebagai mahasiswa. Ada saatnya biaya pendidikan yang mahal itu akan turun. Ada saatnya kita mampu untuk mengubah sistem pendidkan yang tidak memihak setiap lini masyarakat. Itu semua ada saatnya. Dan saatnya kita sabar dan bekerja untuk hari ini dengan sebaik-baiknya.
Cobalah untuk tidak pesimis, tetap optimis, tetap berdoa dan menjadi mahasiswa yang tetap berkemanusiaan. Saat kita melepas status mahasiswa saat diwisuda, biarlah semangat kemahasiswaan tetap terpatri dan hidup di setiap memori kita. Buat kita semua yang akan menjadi pemangku tahta, biarlah kita tetap mengingat bagaimana kerasnya perjuangan kita membela hak rakyat, hak mahasiswa.

        Mahalnya biaya pendidikan tinggi di Indonesia (sekarang) harus berubah (pada saatnya). Dan kita harus jadi bagian dari pengubah itu nanti. Tapi nanti, adalah hal yang bukan sekedar kita orasikan lagi. Nanti adalah saatnya kita berdiri sendiri dan tetap memegang janji-janji mahasiswa tidak mengenal situasinya apapun. Beranikah kita untuk tetap optimis? Beranikah kita untuk memegang janji-janji yang kita buat sekarang? Beranikah kita?

Berhentilah !!


       Sebenarnya gak perlu waktu lama untuk berhenti, langsung saja. Memang butuh waktu tapi kita memang harus mengingat 1 alasan yang paling kuat buat berhenti. Dan ini berbicara untuk berhenti di berbagai tema. Entah mau berhenti berharap, berhenti untuk menatap atau juga berhenti untuk katakan “berhenti”. Siapapun pernah merasakan perasaan berhentiDan gue berhenti untuk mengejar jadi orang lain. Berhenti untuk mengagumi orang lain dan kelebihan-kelebihannya.

          Berhenti untuk bermimpi dunia berputar disekitar gue saja. Berhenti untuk mengejar perhatian orang lain.
Dan pada akhirnya di satu titik paling klimaks, gue bersyukur buat semua yang gue miliki. Gue bersyukur buat semua yang ada di kehidupan gue. Apa adanya. Tidak dibuat-buat. Lebih dan kurangnya.
Jadi, berhentilah kalau memang harus berhenti.